AMERSFOORT

Kayaknya orang Belanda ‘blasteran’ ya?  Dari warna rambut dan matanya yang gelap tersirat imbas gen Asia. Terdengar cowok itu sedang memohon melalui telepon selulernya.
“Schaatje, alsjeblief!
………
Wat zeg je? Nee, lieverd. Ik kan niet…. Halo? Halo?”

Pembicaraan itu terputus. Dan cowok itu pun mengumpat.
“Verdomme!”
Ia menutup hp, kemudian terlihat sibuk merogoh tas ransel miliknya. Tampaknya ia sedang mencari sesuatu.
Cres.
Terdengar suara gemeretak diikuti aroma khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-hari taipan Putera Sampoerna menjadi cengkih.
“Hmmmmm….”
“Waaah itu kan bau….”
“KRETEK!!”
Tanpa disangka, si cowok misterius menoleh ke arah sumber suara-suara mupeng, alias muka pengamat.
“Kretek, Mas? Sebenarnya saya nggak ngerokok, tapi berhubung badai begini… lumayanlah buat bikin badan anget.”
Ia dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.
“Silahkan lho.’’
Banjar, Wicak, dan Daus hampir berlutut bahagia, tapi dalam hati mereka mengutuki nasib.
Yah, orang Indonesia juga.
Sialan, ganteng amat sih jadi orang Indonesia. Makin turun dah pasaran gue.
Tapi kalau cowok perokok kretek diberi pilihan antara gengsi dan menelan gengsi demi kesempatan mendapat rokok kretek di tengah hujan badai, tentunya itu bukan pilihan sulit.
“Makasih yah… sorry… siapa tadi namanya?”
“Geri. Ambil lagi juga gak papa. Ini baru aja dibawain teman dari Indonesia.’’
“Wah, Ger. Thanks banget!” seru Banjar sumringah.
Rokok linting segera pensiun diganti dengan rokok kretek pemberian Geri.
“Anying…”
“Sedep euy…”
“Subhanallah…”
Keempatnya pun tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Tiba-tiba…“Waaaaaaaaaa dari Indonesia yaaa?”
Keempat cowok itu terkejut dan menoleh mencari sumber suara feminin nan ceria yang tiba-tiba muncul.
Seorang perempuan tinggi semampai, wajah cantik, rambut dikuncir, dan suara ceria tanpa tedeng aling-aling langsung datang menghampiri sambil menyodorkan tangannya.
“Halo! Aku Lintang, tinggal di Leiden. Seneng banget bisa ketemu orang Indonesia di tengah badai kayak begini! Mas semua dari mana?”
Banjar yang paling cepat tanggap kalau ada ’barang bagus’ jadi orang pertama yang menyambut tangan Lintang.
“Iskandar. Gue di Rotterdam.”
“….”
“Lah, katanya nama ente Banjar?” celetuk Daus.
“Oh, hehe… iya. Panggilan sih Banjar. Tapi nama asli gue Iskandar.”
Yeee giliran kenalan sama cewek cakep aja namanya jadi bagus, pikir Daus dalam hati.
Lintang hanya mengulum senyum.
“Daus, dari Utrecht.” Daus gantian mengulurkan tangan.
“Geri. Den Haag.”
“Wicak. Wageningen.”
“Abis pada jalan dari mana kok bisa terdampar di Amersfoort?” tanya Lintang sambil mematikan iPod-nya. Dalam situasi gawat darurat lagi pula garing seperti ini, seasyik-asyiknya mendengarkan musik, jauh lebih menyenangkan punya temen ngobrol.
“Hmm. Jangankan tahu kenapa ada di sini. Gue aja masih heran kenapa gue bisa terdampar di Belanda,” sahut Banjar kalem sambil terbatuk-batuk tersedak asap.
Lintang nyengir kuda.
Looks like we’ve got time to kill.
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak sengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir.

***

KOUDE OORLOG

Kamar ini jauh dari kesan rapi. Entah kenapa, meski sang empunya cuma punya satu kasur single, satu lemari pakaian, dan televisi berukuran kecil, namun banyak pernak-pernik yang berseliweran tidak pada tempatnya. Yves, sang landlord pemilik apartemen, tinggal satu lantai di bawahnya.

Banjar sedang duduk di kursi kerja di depan meja belajar. Di hadapannya ada laptop, plus segelas espresso panas. Di sisi kanan tergeletak sepiring gorengan tavuk (sosis ayam turki yang panjang-panjang) dan botol wine murahan yang hampir kosong. Meja belajar itu memiliki ukuran yang besar. Luasnya mendominasi kamar sempit dengan sebuah jendela yang memiliki hamparan pemandangan deretan bengkel di seberang.

Setelah menjalani gaya hidup eksekutif muda papan atas sekian lama, Banjar memiliki mental yang terasah menghadapi rasa stres. Ia lebih tertata dan terpola. Kagok sejenak di awal masa kuliah, setelah itu ia bisa menyesuaikan diri dengan mulus.

Kelebihan Banjar mengatur jadwal riset membuatnya punya waktu lebih dalam finishing tesis. Waktu lebih untuk urusan memoles tesis jelas ia butuhkan demi mengakomodir sifat obsesif kompulsif yang bersemayam di jiwanya. Yang membuat ia masih sedikit keteteran hanya aktivitasnya nyambi bekerja di restoran.

Namun semua keteraturan yang dimilikinya tidak berarti saat shit happens:

BLUP!
“What da….?” Banjar terkejut bukan alang kepalang.
Seakan waktu berhenti khusus di kediaman Banjar dan radius lima kilometer di sekitarnya. Banjar tidak mempercayai takdir Tuhan yang baru saja menimpanya.
Laptop yang telah dianggap sebagai belahan jiwa telah berkhianat. Crash. Mati. Permanently shutdown. Kapot. Snowball effect dari kejadian ini sudah terbayang secara sistematis di kepala Banjar yang mendadak panas:

a. Ia tidak memiliki back up data karena tidak punya uang lebih untuk menebus hard disk portable;
b. Pekerjaan hard disk recovery cukup mahal dan tidak bisa selesai dalam waktu singkat;
c. Padahal ada 3 dokumen penting yang sudah harus dicetak: proposal tesis yang akan deadline 3 minggu lagi, 2 final paper kasus pemasaran yang pasti diganjar ponten sembilan oleh sang profesor saking sempurnanya, dan yang jauh lebih berharga, draft tesis yang segera akan dieksekusinya begitu proposal tembus;
d. Tambahkan hilangnya berbagai rough data file plus 2 giga folder berisi foto-foto narsis selama tinggal di Eropa.

Jelas Banjar merasa keriting papan seketika. Ia mengeluarkan raungan serigala jadi-jadian. Suaranya menggelegar hingga seisi rumah geger.

Di lantai bawah, sang landlord bersama istrinya sedang asyik ngopi sambil nonton TV.
Aya Werewolf di atap, schaatje?” tanya sang istri kaget.
Nee. Hari masih sore begini, itu pasti Iskandar,” sahut sang suami cuek.
“Banjar ubah wujud jadi serigala? Pan belum purnama?”sahut si istri masih belum tune in.
“Purnama belum schaatje, musim ujian sudah,” balas sang suami yang rupanya lebih mahfum.
“Oh, pas musim ujian, mahasiswa Indonesia suka jadi serigala, yah?” komentar istrinya sembari membuka toples kue.
Natuurlijk. Biarkanlah, nanti kalau sudah lapar juga jinak.”
Keduanya lalu melanjutkan aktivitas leha-leha.

Tiga puluh menit kemudian suara raungan bercampur erangan itu berhenti. Sejam kemudian Banjar turun tangga, wajah kusutnya tidak mempedulikan tatapan pasangan landlord. Yves berbasa-basi sedikit,
“Kenapa jij teriak-teriak? Pusing ujian?”
Banjar tidak menjawab, ia sedang tak selera untuk bersopan santun. Segera dihidupkannya kompor dan mulai menggoreng dua potong sosis berukuran jumbo. Begitu matang, ia membawanya ke lantai atas.
Sang istri berbisik ke suami, ”Pap, bener, serigala melayu kalo laper malah jadi jinak.”

“Aaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggghhhhhhhh!!” Suara erangan kembali bergema dari lantai tiga. Istri Yves meloncat kaget dari tempat duduknya.

***

PLEZIER

Brussels. Ibu kota Belgia. Ibu kota Uni Eropa. Pusat Parlemen Eropa. Pusat lobi LSM internasional. Kota kelahiran Tintin dan Asterix, terkenal dengan kue waffle dan coklat. Kota yang memiliki ikon si anak kecil yang sedang pipis, maneken pis.Di bus Eurolines menuju Brussels, Daus duduk bersama Lintang. Di belakang mereka duduk Wicak dan Banjar. Sesuai kesepakatan di antara ketiga pria, jatah duduk dengan Lintang digilir secara merata, dan undian awal jatuh kepada Daus.

Wicak yang pertama bangun ketika bus mulai melambatkan lajunya menyesuaikan dengan regulasi kecepatan kendaraan dalam kota. Dengan perasaan excited yang meluap ia menampar pipi Banjar yang sedang tertidur pulas di sebelahnya.

“Nyong, bangun! Udah sampe!”
Dari deretan kursi depan terdengar suara cempreng serak-serak basah.
“Yang Brussels yang Brussels!!!”
Setelah tiga jam perjalanan, keempat sahabat diturunkan di perhentian bus Eurolines, Stasiun Brussels North. Begitu menjejakkan kaki, pemandangan pertemuan old and new tersaji indah. Arsitektur modern bertemu kontras arsitektur tua.

“Wow! Etape pertama nyampe juga! Dari dulu gua emang udah pengen ke sini!” Wicak sering membayangkan berkantor pusat di Brussel, berkarier di dunia NGO internasional. Memaparkan temuannya di gedung European Commission, Berlaymont Building, yang terlihat di kejauhan dari pelataran alun-alun depan stasiun.
“Terus gimana, nih?” ujar Banjar celingukan.
“Tenang, Jar, ane ambil alih dari sini,” Daus dengan pede mengeluarkan print out peta menuju youth hostel mereka.
Bujubuneng, lewat mana, ya? Kok ribet gini ini kota? Mencari jalan di Brussels memang agak sulit karena bagaikan labirin yang berpola kotak-kotak ajaib. Daus dengan pede bertanya pada dua orang pemuda yang sedang makan siang di sebuah bangku taman.
Excuse me. Do you know where is this place, Rue d’Aerschot?” tanya Daus sambil tersenyum ramah dan menunjuk peta.
Kedua pemuda itu membalas dengan bahasa berdengung, mencoba menjelaskan kepada Daus sembari menunjuk-nunjuk arah. Daus hanya bisa menyembunyikan ketidakpahamannya sesopan mungkin, lalu menjawab,
Merci, Monsieur.”
“Walah, ini kan ibu kota Uni Eropa, kok kagak pada ngerti Enggris, sih? Malah gue diajak ngomong bahasa Perancis!” sungut Daus pada teman-temannya ketika sudah menjauhi kedua pemuda tadi.
“Us, mestinya elu udah riset dong, kan di Lonely Planet dibilangin,” tukas Wicak. “Orang Eropa daratan mana peduli sama bahasa Inggris.”

Seperti penuturan Wicak, bahasa Belanda dan Perancis menjadi bahasa bersama di Belgia, dan semua warga negara dapat berbicara kedua bahasa itu. Namun perkembangan di Brussels menjadikan mayoritas penduduknya menjadi franchophone, atau berbicara Perancis. Mungkin karena Brussels lebih dekat ke Perancis. Mungkin juga karena bahasa Perancis terdengar lebih seksi.

Bermodalkan peta dan sedikit aksi teatrikal mencoba menebak arah jalan berdasarkan penjelasan warga yang (lagi-lagi) selalu berbahasa Perancis, akhirnya seorang imigran Maroko yang (alhamdullilah) bisa berbahasa Inggris pas-pasan mengantarkan mereka ke depan pintu gerbang kemerdekaan, eh pintu youth hostel.