Wicak Adi Gumelar, 29 tahun, anak Banten asli, keturunan bangsawan Banten yang juga seorang pengusaha karet yang dahulu pernah sukses. Sejak usaha Ayahnya bangkrut karena ditipu kolega bisnis, semua tanah dan harta kekayaan keluarga besar Adi Gumelar habis disita bank. Semenjak itu Wicak menjadi tulang punggung yang menghidupi keluarganya yang kini harus belajar hidup pas-pasan.

Wicak mewarisi kegemaran pada dunia kehutanan dan lingkungan karena masa kecilnya. Semenjak remaja ia banyak menghabiskan waktunya mengunjungi penghuni kampung Badui luar dan membuatnya sangat terkenal di sana. Semasa SMA, bahkan Wicak belajar bahwa menghabiskan malam minggu di kampung Badui luar terdengar jauh lebih ’macho’ ketimbang ’malam minggu sendirian karena gua nggak pernah nggak jomblo.’

Sebenarnya Wicak punya alasan valid kenapa ia setia menjomblo. Alasan itu bernama Siti Rosmah, nama yang paling sering ditulisnya dengan huruf sambung berdampingan dengan namanya sendiri di buku bergaris tiga sejak mereka di sekolah dasar. Gadis manis berwajah tirus, mata kucing, kulit kuning langsat, dan rambut sepunggung. Siti Rosmah, yang selalu menampakkan lesung pipi saat tersenyum, adalah murid favorit para guru dan sesama teman karena pribadinya yang ramah dan pembawaannya yang santun.

Selesai EBTANAS, Siti Rosmah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di sekolah. Orang tuanya menikahkannya dengan juragan beras kampung sebelah. Jadilah pendidikan Siti Rosmah tamat hanya sampai kelas 3 SMP. Namun hingga kini, belum ada gadis yang dapat menandingi kesempurnaan Siti Rosmah di mata Wicak.

Selesai menunaikan beasiswa di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Wicak kemudian mengambil jalan berbeda dari teman-temannya yang memilih mendulang intan di perusahaan HPH yang terkenal ’basah’. Idealisme Wicak mendorongnya untuk berkarir di jalur LSM Kehutanan. Dalam upayanya untuk menyelidiki jalur illegal logging di Indonesia, kegiatan Wicak acapkali terbentur dengan kepentingan pemerintah yang berkuasa, pengusaha kayu dan cukong-cukong lainnya.

Kasus ilegal logging yang hampir membuat ia dan Ucup terbunuh ternyata menyeretnya pada kepentingan politik beberapa pejabat teras penting di tingkat daerah maupun nasional. Kantor Wicak, sebuah LSM internasional yang memiliki sumber dana berlimpah, berusaha menyelamatkan Wicak dari jeratan politik kotor dalam negeri. Termasuk menghilangkan semua bukti kegiatan Wicak selama di Kalimantan. Wicak pun di ‘ekstradisi’ ke kantor pusat mereka di Belanda, dengan kedok S2.

Kejadian itu memberikan kesempatan emas bagi Wicak untuk menjadi mahasiswa S2 di Belanda.