Garibaldi Utama Anugraha Atmadja terlahir sebagai anak sulung keluarga middle class di Bandung. Semasa kecil, Geri tumbuh sebagai anak yang cukup bahagia. Abahnya yang pengusaha kecil-kecilan bus antarkota antarpropinsi (AKAP) menghidupi keluarganya dengan baik. Minimal, keluarga Atmadja tak pernah menunggak uang sekolah Geri dan kedua adiknya, Lilis dan Citra. Setiap liburan sekolah pun mereka selalu bisa berlibur ke ibu kota dengan Corolla DX Abah.

Pada suatu hari Abahnya Geri bertemu dengan mantan tetangga di Bandung yang kini sudah menjadi seorang pialang sukses di Jakarta. ”Ini cara baru buat muter duit, Kang! Dijamin lebih untung ketimbang nabung di bank!” Abah Geri manggut-manggut dan dengan seksama mendengarkan penjelasan panjang temannya mengenai valas, reksadana, saham liquid dan saham bluechips. Abah memang sedang mencari cara baru untuk mengembangkan bisnisnya, dan tampaknya sekadar menabung hasil setoran bus AKAP takkan mencukupi. Geri merupakan anak lelaki satu-satunya kesayangan Abah, dan Abah bercita-cita agar Geri bisa membesarkan bisnis keluarganya suatu hari nanti.

Abah memang tidak berhasil menangkap banyak dari penjelasan temannya itu. Tapi satu yang Abah tahu pasti, ia ingin menyekolahkan Geri belajar bisnis di luar negeri. Untuk itu Abah butuh duit. Dan duit itu bernama: Dolar. Hari itu juga, Abah bertekad membeli dolar semampunya, setiap bulan. Gak usah dijual dululah. Biar cuma punya sedikit gak papa, itung-itung nabung buat pendidikan Geri, pikir Abah sederhana kala itu. Semenjak itu jadilah Abah seorang pengusaha bus AKAP yang memiliki tabungan dolar.

Tiga tahun berikutnya, tiga hal terjadi dalam kehidupan Abah secara serentak. Geri lulus SD, Abah terpilih sebagai ketua RT, dan Indonesia mengalami resesi, yang lebih dikenal dengan sebutan krisis moneter alias krismon. Secara mendadak, nilai dolar Abah melambung ke langit. Sesuai saran Ujang, Abah segera menjual dolarnya saat nilai dolar memuncak.

Bermodalkan rezeki baru berkat keajaiban krismon, Abah segera meluaskan jaringan bus AKAP miliknya. Dalam waktu singkat armadanya telah melayani trayek se-Jawa Bali. Sementara bisnis bus AKAP maju dengan pesat, Abah juga mulai merambah bidang usaha lain, mulai dari jasa travel hingga perkebunan kelapa sawit.

Begitu tiba waktunya Geri harus kuliah, Abah sudah menjadi konglomerat kecil. Kelas sosial ekonomi keluarga Atmadja sudah loncat galah dari B+ ke A++, Geri sudah lulus dari sebuah SMA internasional di Tangerang, dan panggilan terhadap orang tuanya pun sudah berganti dari ’Abah dan Mamah’ menjadi ’Papi dan Mami’, tentu atas permintaan sang Ab… eh, Papi. ”Panggilan Abah kurang komersil di antara rekan-rekan bisnis,” begitu kata beliau.

Garibaldi Utama Anugraha Atmadja pun berangkat S1 ke Belanda diiringi air mata keluarga, doa restu, dan tabungan euro yang dapat menyaingi pemenang ”Who Wants To Be A Millionaire”.