Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, putra Betawi asli dari Jakarta. Seumur hidupnya tinggal di Gang Haji Sanip, Kelurahan Prumpung, Cipinang. Orang tuanya PNS golongan 2 di Pasar Enjo, Cipinang.

Sejak kecil, Daus adalah cucu kesayangan kakeknya, Engkong Ca’a, seorang juragan mikrolet. Walau semasa kecil tak pernah punya kotak penuh mobil-mobilan Tamiya atau uang saku yang cukup untuk traktir jajan cireng satu sekolahan, Engkong selalu memberi kemewahan intelektual. Dia satu-satunya cucu yang mengenyam bangku TK sebelum masuk SD. Sementara anak-anak SD lain pergi ke taman bacaan, Daus cilik mengoleksi komik Tatang S hingga novel Enid Blyton.

Daus muda yang tergila-gila pada novel John Grisham bercita-cita ingin menjadi pengacara litigasi. Kalau masalah silat lidah, pikir Daus, tentu putra asli ibu kota takkan kalah dengan pengacara tanah Tapanuli yang kerap muncul di TV. Bukankah Betawi juga terkenal mahir adu pantun? Berbekal mimpi itu, Daus tembus UMPTN. Fakultas Hukum UI adalah pilihannya.

Namun menjelang hari kelulusan cucu tersayang, ‘Kong Ca’a menentang cita-cita Daus untuk jadi pengacara. Si Engkong takut dosa. Kala itu, Daus hanya manggut-manggut tanpa berani menentang Engkong yang sangat dihormatinya.

Daus lalu mencari cita-cita baru. Terinspirasi serial TV West Wing karya Aaron Sorkin yang bercerita seputar kehidupan staf kepresidenan Amerika Serikat, dengan optimis Daus berupaya menggapai asa baru. Menjadi juru bicara kepresidenan, menggantikan Wimar Witoelar.

Hingga tiba-tiba suatu hari 5 bulan setelah lulus, Engkong Ca’a dikejutkan oleh sebuah kabar gembira: Daus mau kerja di Departemen Agama . Engkong yang sudah sakit-sakitan mengangguk setuju. Pikiran si Engkong yang sederhana itu hanyalah, Daus beserta bapak-ibunya bisa naik haji gratis. Hidupnya mulia dan mendapat banyak pahala. Seandainya Engkong tahu alasan sesungguhnya Daus masuk Departemen Agama, pasti Engkong akan mencerca lebih sinis dari almarhum Bang Ben kalau lagi ngelenong.

Daus membuat blunder dengan masuk DEPAG hanya karena terpikat bujuk rayu seorang wanita. Apalagi untuk seorang wanita yang tak lama kemudian meninggalkannya untuk kawin dengan seorang kasubdit departemen sebelah. Keputusan ini adalah awal dari Firdaus Muthoyib S.H. menjadi seorang PNS golongan 3A Departemen Agama; menjadi mediocre government ambtenaar, tenggelam di balik kompleksnya birokrasi.

Demi menunjang cita-citanya, Daus memilih menjadi staf Direktorat Jenderal Bina Masyarakat Islam. Menurutnya, inilah tempat mengasah kemampuan berkomunikasi yang akan berguna jika kelak mengabdi sebagai jubir presiden. Daus optimis suatu hari nanti cita-citanya itu pasti bisa tercapai.

Yang sering tidak diketahui orang lain, Daus tidaklah sesoleh yang dikira. Ia hanya hafal doa-doa sapu jagat untuk memimpin doa. Dia juga kurang yakin dirinya NU atau Muhammadiyah, karena lupa tanya sama guru ngaji semasa madrasah dulu. Kadang dia merasa islam liberal ala Utan Kayu, meski bahaya juga kalo ngaku gitu. PNS juga manusia adalah lagu favorit yang sering dilantunkannya.

Namun demikian, Daus tetap memegang teguh prinsip Engkongnya, untuk selalu cari makan dengan jalan halal. Daus kebetulan pernah kursus audio. Keterampilan ini membuatnya sering dapat side job menjadi audioman kendurian dan konser dangdut di kelurahan. Skill inilah yang digunakannya untuk membiayai kuliah hingga lulus ujian profesi advokat.

Pada suatu hari kesempatan itu datang berbentuk beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands). Di saat kebanyakan PNS DEPAG lebih suka ditawari naik haji gratis atau kuliah ke Al-Azhar Kairo untuk mempercepat jenjang karier, Daus menang mutlak dalam seleksi beasiswa STUNED karena tidak ada seorang pun karyawan DEPAG lain yang cukup nekat untuk melamar. Ia merasa inilah tiketnya. One way ticket to heaven. Dia tak ragu memilih program Human Rights Law di Utrecht, meski menurut salah satu rekan kerja yang radikal garis keras, itu jurusan bentukan Yahudi-Zionis-Barat. Daus yang paham betul misi mulia hak asasi manusia tentu tidak menggubris tudingan tidak berdasar itu.

Engkong Ca’a menghembuskan napas terakhir dengan damai saat Daus membisiki telah mendapat beasiswa ke luar negeri. Hanya saja, Daus tidak berani bilang pada Engkongnya, seorang veteran pejuang 45, kalau ia akan menuntut ilmu di negeri kompeni. Biarlah Engkong berasumsi Daus akan bersekolah di Cina sebagaimana sabda Rasul.

“Berape pasnye, Bang?”

“Tiga setengah juta deh, kagak bisa lebih!” sahut si pedagang setelah negosiasi panjang yang melelahkan di bawah pohon jambu. Mereka lalu bersalaman.    Daus rela melepas motor bututnya demi menambah uang saku pergi ke Belanda. Maklum, beasiswanya ngepas. Matanya berseri-seri setelah mengantongi uang aneka pecahan yang lecek kumal itu.

Siapa bilang anak Betawi nggak bisa sekolah hukum ampe ke luar negeri!

Europe… here I come!