Iskandar Irwansyah a. k.a Banjar, anak muda berusia 27 tahun-an lahir dan besar di kota Banjarmasin. Anak bungsu dari 2 bersaudara ini memiliki orangtua dari keluarga kelas menengah era 80-an. Bapaknya adalah pedagang bawang yang berkecukupan. Berkecukupan bisa diilustrasikan dengan semasa kecil pernah naik pesawat, orangtua mampu beli berlian di Martapura, sudah naik haji lebih dari sekali, hingga tiap minggu bisa plesir ke taman hiburan Palui.

Bersekolah dari TK hingga SMA di Banjarmasin Banjar yang otaknya encer dan suka membaca sempat ikut program pertukaran pelajar ke luar negeri. Pengetahuan umumnya yang luas membuat Ia dengan mudah dapat menyebut nama-nama ibukota Gabon, Kongo, hingga Sierra Leone. Sebagaimana lazimnya anak lelaki di Kalimantan, orang tuanya memberi pelajaran agama Islam yang cukup lewat guru ngaji yang dipanggil ke rumah. Pelajaran agama ini kerap berakhir dengan cekcok antara Banjar dengan sang guru karena Banjar kerap menanyakan hal-hal yang tidak dikuasai sang guru.

Banjar selanjutnya tumbuh menjadi tipikal pemuda daerah yang beruntung mengenyam pendidikan di Jawa. Datang dengan perasaan udah paling keren se-Banjarmasin begitu sampai di tanah Jawa ia stress punya penampilan udik. Dari paling pintar sekelas menjadi mahasiswa mediocre di ITB. Di sana ia masuk kelas mahasiswa ber-IP 3 pas yang berjuang keras untuk lulus karena selain bukan ber IQ jenius, ternyata dunia teknik bukanlah jiwanya. Sebagai anak pedagang yang besar di tengah-tengah meja kasir dan hamparan bawang yang dikeringkan ia lebih mudah memahami hitung-hitungan cost of good sales daripada menghitung kekuatan struktur jembatan.

Semasa kuliah, meski Banjar secara ekonomi tidak memiliki masalah, namun ia merasa minder untuk menjalin hubungan dengan gadis-gadis Bandung yang modis. Ia kerap merasa dirinya kampungan dan tak berprospek di hadapan para mojang Bandung. Untuk itu Ia merasa perlu terlebih dahulu membuktikan dirinya adalah pria harapan mertua. Ia berkhayal bila telah berada di posisi itu maka tiada lagi gadis yang tak terjamah.

Seusai menyelesaikan S1 ia sebetulnya ingin pulang karena desakan orang tua. Sang Bapak berharap Banjar dapat meneruskan usaha dagang khususnya setelah sang kakak memilih belajar agama hingga ke Cairo untuk bekal sebagai pendakwah nantinya. Meski demikian ia gengsi karena merasa sudah berkuliah jauh dari kampung halaman. Atas dasar pertimbangan gengsi tersebut maka melengganglah Banjar menjadi MT di divisi sales and marketing salah satu pabrik rokok terbesar di Nusantara.

Sifat dasarnya yang penuh rasa ingin tahu. Ingin selalu menyesuaikan diri dengan ritme jaman. Mandiri, tekun dan motivasi untuk menjadi pria pilihan wanita sejagad membuat ia bekerja super keras di kantor ini. Kombinasi hal di atas plus karakternya yang mewarisi karakter orang Melayu maritime yang terbuka bagi budaya bangsa/suku lain membuat sang Presiden Direktur melihat potensi serta hasil kerja keras anak muda ini. Dalam 5 tahun ia sudah menjadi manager area termuda di perusahaan tersebut.

Cita-cita menggapai posisi yang berkilau di depan lawan jenis kini telah tercapai. Akan tetapi hal itu ternyata sama sekali tidak melancarkan urusan hubungannya dengan para wanita. Ia tetap masih belum berhasil menggaet satupun gadis yang menarik hatinya. Salah satu penyebabnya karena standar yang ia tetapkan telah bergeser. Dari sekedar “enak dilihat” kini sudah berkembang menjadi harus mampu mengimbangi ntelektualitasnya. Syarat tinggi itu membuat banyak gadis2 yang tadinya dekat perlahan menjauh karena mengira Banjar adalah menjadi pemuda yang ‘sombong’.

Disaat hidup memanjakannya dengan materi berlebih diusia muda, Banjar memutuskan untuk mengambil sabbatical leave untuk kembali ke bangku kuliah akibat tawaran gila Goz, sahabatnya semasa berkuliah di Bandung. Kebetulan salah satu gadis idamannya adalah adik Goz yang memenuhi segala kriteria wanita sempurna di kepala Banjar. Hanya sialnya, hampir tak ada harapan untuk mendekatinya karena Goz tidak rela adik semata wayangnya menjadi pacar karibnya yang udik. Namun melihat karir Banjar yang moncer Goz mulai berpikir tidak ada salahnya bila Banjar diberi kesempatan. Untuk itu Banjar diberi satu ujian. Ujian itu adalah kembali ke bangku kuliah.