Olahraga Warisan Leluhur Belanda

By July 19, 2014 Blog No Comments

Kita sekarang pasti tak asing dengan nama-nama seperti Robben, van Persie, Kuyt hingga Tim Krul. Yep, merekalah pahlawan Het Nederlands Elftal a.k.a tim Oranje yang baru saja kembali dari Brazil dengan medali perunggu FIFA World Cup 2014 di leher. Melihat torehan prestasinya, pencapaian Belanda memang luar biasa. Untuk negara berukuran mini yang berpenduduk “hanya” 16 juta jiwa prestasi Belanda maksi. Tak hanya di lapangan hijau, dari masa ke masa, ada saja atlet Belanda yang mencuat dan menjadi bagian dari sejarah sports dunia. Mulai dari Ice skating hingga kick boxing. Dari atletik sampai senam ritmik.

Kira-kira apa yang membuat prestasi atlet-atlet Belanda moncer? Tentu salah satunya adalah buah dari tingginya animo masyarakat pada olahraga. Ini terlihat jelas dari terdaftarnya 25% populasi di 35.000-an sports club di seantero negeri. Selain sports club ala pusat kebugaran Celebrity Fitness atau Club Ade Rai (ini club dimana Daus pernah menimba ilmu membina otot) yang dipenuhi peminat, sports club olahraga lainnya juga penuh peminat. Sports club yang tak pernah kering peserta diantaranya adalah sepakbola, bola voli, hoki lapangan, tennis, dan golf.

Ada cerita menarik soal animo berolahraga masyarakat Belanda. Meski mayoritas warga menggemari beragam olahraga modern, namun olahraga permainan tradisional Belanda tetap punya tempat khusus di hati mereka. Situasi yang jauh berbeda bila kita bicara soal nasib olahraga permainan tradisional nusantara macam bentik, gobak sodor, atau engklek. Rasanya sudah 20 tahun lebih kami tidak lagi melihat anak-anak memainkan permainan tradisional tersebut. Apabila ada mungkin hanya dikota-kota kabupaten yag jauh dari ibukota provinsi. Situasi semakin tak berpihak pada permainan tradisional sejak rental PS menjamur. Yang tersisa paling panjat pinang. Itupun setahun sekali.

Lalu apa saja sih olahraga permainan tradisional khas Belanda? Oke,  rada ribet nama-namanya. Tapi gak perlu dirisaukan pronunciation-nya ya. Percayalah, kami pun ngga lancar nyebutinnya.

1. Fierljeppen a.k.a Polsstokverspringen. Permainannya sekeren namanya. Melibatkan sebatang galah dan kanal selebar 8-13 meter, pemain memanfaatkan galah untuk “menyeberangi” kanal dengan harapan tidak sesial Lintang yang kecebur di kanal Leiden. Nah, dalam Fierljeppen, galah itu tidak dibawa lari terbirit-birit lalu ditancapkan ke kanal diikuti lompatan sang atlet seperti di cabang lompat galah. Pada permainan ini, pemain akan berlari dan meloncat untuk meraih galah yang sudah ada berdiri di pinggir kanal. Setelah menggapai galah sang atlet secepatnya memanjat ke pucuk galah sehingga saat galah jatuh sesuai hukum gravitasi ia sudah melewati badan kanal dan mendarat dengan sukses di seberang. Bisa kebayang betapa tangkasnya orang Belanda memanjat galah. Ngga ada salahnya kita pikirkan untuk rekrut mereka sebagai anggota tim lomba panjat pinang tujuhbelasan di kampung.

Fierljeppen (Source Image: www.Fierljeppe.nl)

2. Beugelen. Bukan! ini bukan Bagelen roti kering manis enak khas Bandung. Beugelen adalah permainan yang sudah populer sejak abad pertengahan. Permainan yang dipercaya sebagai nenek moyang billiard ini melibatkan lebih banyak otak dibanding otot. Dimainkan oleh 2 hingga 4 pemain di sebidang tanah seluas 50m2 pemenang adalah pemain yang pertama meraih angka 30. Perlengkapan permainan ini sederhana namun tidaklah mudah dicari di supermarket. Daftar perlengkapannya meliputi; bola khusus berwarna merah dan putih, stick khusus dari kayu, gol setengah lingkaran yang ditanam di salah satu sisi lapangan dan penggaris khusus berukuran 8cm (yup pakai penggaris!). Meskipun sejarah permainan ini sangatlah panjang namun hanya di provinsi Limburg-lah Beugelen masih solid bertahan kepopulerannya. Selain di Belanda, hingga kini kejuaraan Beugelen juga masih bergulir secara teratur di Belgia.

Beugelen (Source Image: http://www.jefdejager.nl/)

Beugelen (Foto: http://www.jefdejager.nl/)

3. Kaatsen. Dipercaya sebagai nenek moyang dari berbagai permainan yang melibatkan bola dan raket, Kaatsen justru mengandalkan telapak tangan untuk menepok bola. Menggunakan bola seukuran bola pingpong pejal berlapis kulit, Kaatsen dimainkan oleh dua tim yang berisikan tiga pemain yang disebut partuur. Permainan dimenangkan suatu tim bila mencapai skor 6. Setiap skor diperoleh setelah memenangkan skor kecil sejumlah 8. Meski sistem perhitungan mirip-mirip cabang tennis, ada istilah ace, serve fault, dsb (literatur pun menyebutkan olahraga ini berkontribusi pada munculnya tennis lapangan) namun pendapat pribadi saya permainan ini sangat mirip dengan American handball zonder tembok dan rally-rally panjang. Apapun pendapat anda, faktanya permainan ini sangat populer dalam versi yang berbeda diberbagai negara. Rakyat Basque menyebut permainan ini ‘pelota’, Irish menyebutnya ‘one wall handball’ sementara bangsa Swedia memiliki permainan serupa bernama Gotland. Satu hal yang pasti, saya males ‘berurusan’ sama pemain Kaatsen. Melihat kemampuan telapak tangan menampar bola sejauh puluhan meter saya yakin tampolan atlet cabang olahraga ini dahsyat kekuatannya.

Kaatsen (c http://www.belsport.be/)

Kaatsen (Foto: http://www.belsport.be/)

Selain tiga cabang di atas, Belanda masih punya sederet olahraga permainan tradisional lainnya. Sebut saja Klootschieten, kolven, korfball, paalzitten, dan Skûtsjesilen. Sangatlah disayangkan bila Indonesia yang kaya ragam budaya dan memiliki lebih banyak olahraga tradisional tidak mampu mempertahankan kelestariannya. Siap untuk jadi atlet lompat batu Nias bila suatu hari nanti dipertandingkan di Olimpiade?

Groetjes!

Leave a Reply

Your email address will not be published.