NVO: BEHIND DA SCENE

By July 21, 2009 Blog 2 Comments

Sebuah Novel Kolaborasi
“Jadi, naskah ini ditulis oleh empat orang?” ucapan itu terlontar dari Gangsar Sukrisno, pada suatu malam di pertengahan tahun 2008. Ia saat itu adalah pemimpin Bentang Pustaka, dan baru saja memutuskan tertarik menerbitkan naskah Negeri Van Oranje (NOV). Saya yang duduk di hadapannya mengangguk antusias.

“Bagaimana penulisan nama-nama penulisnya nanti ya?” Gangsar sedikit tercenung, mengernyitkan dahi, wajahnya tampak memikirkan perwajahan karya ini nantinya. “Ya ditulis semuanya, Mas,” jawab saya dengan cengengesan dan menyeruput kopi.

Penulisan model keroyokan, atau collaborative writing, memang masih mengundang polemik. Meskipun sudah cukup lama sekali jamak dilakukan. Tercatat dalam sejarah, karya klasik Iliad and the Odyssey adalah penulisan kolaboratif pertama yang dilakukan. Banyak penulis terlibat dalam proses pengumpulan, penyusunan, hingga penulisan puisi yang bersumber dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi itu. Meski demikian atribusi penulis tetap diberikan kepada satu orang, Homer.

Scott Rettberg menyimpulkan, bahwa Homer bukanlah dikenal dalam sejarah sebagai penulis karya, yang dibuat antara abad kedua belas hingga kedelapan sebelum masehi itu, tapi sebagai fungsi utama sistem penulisan kolektif pertama dalam sejarah.

Penulisan secara kolektif memang masih menyimpan banyak kontroversi. Isu utamanya adalah atribusi penulis. Banyak peneliti karya-karya sastra kolaboratif seperti Lorraine York menyorot pentingnya kejelasan akan siapakah yang menuliskan dan ide siapakah yang ditulis, karena itu penulisan tidak boleh kolaboratif.

Namun di sisi lain, dunia akademis mencapai kesimpulan yang berbeda. Alice Harrison Bahr dan Mickey Zemon yang meneliti penulisan jurnal ilmiah menghasilkan studi yang mendukung. Bahwa, penulisan secara kolaborasi meningkatkan produktivitas penulis, dan meningkatkan kualitas artikel. Penulisan kolaboratif semakin meningkat saat riset semakin kualitatif. Memang, sudah sejak lama dapat kita lihat atribusi lebih dari satu penulis sudah cukup lama lazim dalam penulisan jurnal ilmiah.

Bagaimana dengan novel? Setelah lama dipandang kalau novel ditulis kolaborasi itu hanyalah cukup menjadi ghostwriter atau penulis anonim saja, sejarawan sastra mencatat, gebrakan pertama Mark Twain yang berkolaborasi dengan Charles Warner Dudley dalam The Gilded Age (1873). Ini adalah titik awal penulisan novel keroyokan.

Bagi saya sendiri, pertama kali terkesan dengan penulisan novel model keroyokan adalah saat membaca Rasta dan Bella (1991), kolaborasi pertama dua penulis muda berbakat pada zamannya, Hilman Hariwijaya dan Zara Zettira.

Berawal dari Sehelai Tisu

“Woi, ketemuan yuks!” demikian sebuah ajakan berkumpul di suatu malam, November 2007, satu bulan sesudah saya kembali ke tanah air. Saya bertemu dengan ketiga sohib saya. Rizki, yang sedang kembali dari Belanda untuk riset doktoralnya di Kalimantan, Adept, dan Nisa. Malam itu di Tebet, obrolan semakin larut semakin memantapkan sebuah rumusan spontan.

Pindah ke lokasi nongkrong lain, karena tempat itu harus tutup. Kami lanjutkan proses badai otak penuh perdebatan seru dan gelak tawa. Mendekati tengah malam, lahirlah deskripsi awal para tokoh dan garis besar cerita dalam Negeri Van Oranje (NVO). Semua notulensi diabadikan dalam beberapa helai tisu.

Berawal dari kegelisahan, akan perlunya sebuah panduan akan kehidupan mahasiswa saat studi di negeri asing, terutama Belanda, namun dengan bahasa yang lugas dan tidak preachy. Kami sampai pada misi bahwa karya ini haruslah inspiratif, namun disampaikan dengan humor. Karena bukankah lebih enak jika benak pembaca mendapatkan sesuatu yang tersirat ketimbang yang tersurat jelas?

Pada tahap awal ini, kami terinspirasi oleh dua novel, Travelers’ Tale: Belok Kanan Barcelona (2007), sebuah novel kolaborasi empat orang dan Edensor(2007), tetralogi ketiga Andrea Hirata. Kedua buku kiriman ini sempat kami baca bergiliran saat masih menempuh studi master di Belanda.

Lantas bagaimana pola kerjanya? Setelah itu koordinasi lebih banyak menggunakan e-mail, pada sebuah milis bertitel “aagaban”. Minus Rizki yang kembali ke Belanda, saya, Adept, dan Nisa masih sering bertemu membahas bab-bab yang sudah jadi. Pertemuan digelar tiga minggu sekali, kadang di akhir pekan, kadang sepulang kantor. Membagi waktu antara kepadatan kerja di kantor masing-masing dan waktu untuk keluarga.

Cukup rumit pada praktiknya. Ada satu bab yang menjadi tanggung jawab seorang penulis, ada pula satu bab yang ditulis gabungan baik berdua, bertiga, maupun berempat. Menyatukannya menjadi suatu karya yang enak dibaca juga tidak mudah. Karena diperlukan kesinambungan cerita, logika cerita yang tidak boleh bentrok, juga planting information untuk membangun letupan elemen of surprise di sana-sini cerita.

Mulai dari tantangan teknis seperti sinkronisasi. Contoh mudahnya, seorang tokoh berkeringat peluh ketika mengayuh sepeda, di halaman selanjutnya rekannya berjaket tebal dengan menahan dinginnya suhu minus, sedangkan dari jendela terlihat daun rontok musim gugur. Semuanya dalam satu adegan! Dengan menahan senyum, akhirnya dibuat timeline bab yang dilengkapi bulan dan musim sehingga akurat, tidak njomplang setting-nya.

Ada pula beberapa bab yang sudah selesai ditulis, sebelum bab-bab urutan sebelumnya rampung ditulis. Sehingga mengakibatkan garis besar utama yang dirumuskan dalam tisu tadi mengalami improvisasi. Ini diakali dengan menumbuhkan bab-bab bridging baru dan dengan merombak beberapa bab.

Untungnya dari menulis berempat. Selalu ada satu atau dua yang tetap konsen, meski yang lainnya sedang (dipaksa) vakum atau mengalamiwriter’s block.. Saya sendiri sempat izin vakum cukup panjang karena ada penugasan kantor, yang membuat saya harus rela 40 hari kerja terus-menerus tanpa jeda. Setelah itu cuti panjang kompensasi, saya gunakan untuk menulis semua ketertinggalan saya.Sedangkan tantangan nonteknis, amat beragam. Kebanyakan datang dari kesibukan di kantor masing-masing. Selalu ada saat, di mana tumpukandeadline kerjaan kantor harus menyita perhatian kami dari proyek penulisan ini. Atau gaya menulis satu dan yang lainnya yang berbeda-beda. Ada yang rajin, teratur menghasilkan satu bab dalam seminggu. Ada pula yang baru bisa lancar menghasilkan banyak bab sekaligus, namun itu hanya terjadi dua bulan sekali. Menunggu mood yang baik barulah inspirasi mengalir.

Total waktu merampungkan novel ini kurang lebih satu tahun. Salah satu penulis, Nisa, dari mulai anaknya hanya seorang, setelah novel ini selesai, sudah menjadi dua orang. Dan percayalah, saat menjenguk kelahiran putra keduanya, kami masih sempat mendiskusikan novel ini.

Sulitnya Kompromi dengan Ego

“Boleh minta waktu untuk mengecek kembali jika ada salah ketik, untuk terakhir kalinya?” saya bertanya kepada pria di hadapan saya. Ia hanya tersenyum mengangguk. Pria itu adalah Salman Faridi, pemimpin Bentang Pustaka. Saat itu pertengahan Februari 2009. Cukup lamanya proses penulisan berjalan, pergantian pucuk pimpinan penerbit kami juga terjadi. Kala itu kami berada di Bandung, membahas finalisasi naskah yang akan naik cetak dalam hitungan hari. Bayi kami akan lahir.

Novel memang sebuah karya subjektif, apalagi yang namanya ego pengarang itu biasanya sangat besar. Kami semua, meski sudah biasa kerja team work di kantor, masih mengalami kendala itu. Ditambah lagi, jika ini karya satir atau roman sedih, mungkin relatif mudah. Ini adalah novel roman komedi sehingga pertemuan kita sarat sekali perdebatan akan apakah kalimat ini lucu atau tidak lucu. Ditambah lagi, di antara kami, tidak ada yang merupakan penulis novel senior profesional yang bisa didengar di antara yang lain. Karena semua sama egaliternya, susah sekali perdebatan ini diveto.

Satu orang mengamuk karena karyanya dibabat habis oleh yang lain. Sebaliknya, ada pula yang marah besar saat karyanya dipoles oleh penulis yang lain sehingga dianggapnya melenceng. Praktis, butuh waktu berminggu-minggu untuk mencapai kesepakatan akan suatu bab.

Rasa penat yang terakumulasi kadang membuat patah semangat. Namun bisa tumbuh kembali, kala melihat kami sudah menghasilkan lembaran-lembaran yang semakin lama semakin tebal. Pekerjaan yang semakin menuntut ketelitian, di sisi lain membuat menulis kadang menjadi tidak terasa fun lagi. Untunglah saat yang lain sedang down, selalu tersisa satu yang masih tekun.

Di sinilah letak dua kata kunci: kepercayaan dan kompromi. Kami belajar bahwa selalu ada satu titik dimana kami bisa saling berkompromi. Selalu ada satu titik, dimana akhirnya kami bisa tertawa bareng dan berkata, “Yup, Ini dia yang kita inginkan,”meskipun untuk mencapai satu titik itu kerap amat sangat melelahkan.

Oktaviani, editor naskah kami dari Bentang Pustaka, kadang geleng-geleng kepala saat proses editing novel ini. Sering sekali ada tambahan masukan yang gonta-ganti datang. Maklum, semuanya harus melalui rembuk empat kepala.

Ini sebuah eksperimen, jika karya kreatif bisa lahir dari kerja kolektif. Dalam dunia musik ada grup band selain penyanyi solo. Mengapa tidak dalam dunia penulisan novel? Betul-betul sebuah kepuasan tersendiri ketika bayi ini lahir, dan mendapat sambutan yang baik dari khalayak pembaca. Seperti kata Mark Twain, “It takes a heap of sense to write good nonsense.”

(Wahyuningrat, Co-author Negeri Van Oranje)

sumber: EKUATOR e-magazine mizan.com edisi 1 Juli 2009

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.