KENAPA MUSTI S2 (BEASISWA) KE BELANDA? UNTUK WARTAWAN DAN PEKERJA MEDIA

By March 21, 2009 Blog No Comments

Pertama karena peluang lo lebih BESAR, plus fitur yang nggak kalah menarik dengan beasiswa negara sebelah. Berikut pertimbangan yang amat menggugah.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, beasiswa dari Amrik seperti Fullbright, Inggris dengan Chevening-nya, dan Australia dengan ADS mungkin menawarkan dana yang lebih besar dan formulir pendaftaran yang tidak terlalu ribet. Namun popularitasnya yang tinggi, karena sudah cukup lama eksis, membuat peminat beasiswa ini membludak. Jadi probabilitasnya semakin kecil karena tingkat persaingannya tinggi.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat juga, beasiswa dari negara eropa seperti Jerman dengan DAAD, Perancis, dan juga Italia memiliki peluang yang relatif lebih besar, salah satu faktor terbesar pesaingnya relatif sedikit karena kendala persyaratan penguasaan BAHASA.

Nah beasiswa dari pemerintah Belanda menawarkan perpaduan yang menarik dari kedua elemen itu. Sebuah perfect blend.

Lupakan kendala bahasa, semua program S2 tersedia dalam bahasa pengantar bahasa Inggris. Ya benar, Belanda adalah english speaking countrydan sudah berlangsung beberapa abad. Nggak percaya? silahkan google sendiri. Sudah menjadi well known fact kalau inggris menjadi bahasa kedua. Hampir semua warga belanda bisa berbahasa inggris dan tidak sungkan menggunakannya.

Beda dengan Perancis yang fanatik kepada bahasa mereka, atau Jerman yang meski tanda petunjuk jalannya tersedia dalam bahasa Jerman dan Inggris tapi tetap saja berbahasa Jerman, Belanda tidak begitu. Meski semua tanda petunjuk jalan berbahasa Belanda namun semua orang sejak anda mendarat, dari mulai tukang sapu hingga polisi, akan dengan santai melayani anda berbahasa Inggris.

Lalu soal seleksi beasiswa. Ada dua beasiswa utama dari Belanda untuk S2, yaitu STUNED dan NFP(sisa detailnya liat web NESO Indonesia). Peminatnya masih relatif tidak sebegitu banyak peminat Fullbright atau Chevening. Ini karena kendala persyaratannya yang tidak mudah. Harus sudah memiliki surat telah diterima oleh universitasnya terlebih dahulu.

Eh, jangan keburu jiper terlebih dahulu. Denger syarat ini sih udah banyak bikin orang mundur tiga langkah. Tapi sebenarnya prosesnya nggak terlalu ribet kok. Ini mungkin dibuat agar langsung ter-screen peminat seriusnya.

Bandingkan dengan model beasiswa lain: anda mengisi formulir 3 lembar plus attachment lalu dipanggil interview seleksi lalu sukses diterima baru deh dana turun lalu mulai cari-cari sekolah dan ribet daftar-daftar.

Nah sebenarnya kan prosesnya cuma dibalik aja. Buka web universitas yang lo mau, lengkap dan jelas kok disana. Isi form plus attachment mereka macam kopi legalisir ijazah, kopi paspor, rekomendasi dosen kamu, dan tetek bengek persyaratan lainnya. Kirim semua pake DHL. Terus dateng deh surat kamu diterima. Surat keterangan telah diterima biasanya berlaku untuk 2 tahun.

Surat itu plus attachment lain yang dipersyaratkan dalam form beasiswa diisi dan dilengkapin terus kirim deh. Nggak susah kan? Cuma perlu keteguhan hati sedikit.

Saya paham kita maunya yang nggak ribet, yah kalo yang nggak ribet ya siap-siap bersaing dengan banyak orang. Kalo mau susah sedikit ya nikmati keuntungan lebih. Bukankah hidup seperti itu? Nasi goreng bumbu instan atau bumbu ngulek sendiri, tentu beda konsekuensi rasa.

Untuk wartawan dan pekerja media

Ketahuilah kawan, para pekerja media itu termasuk prioritas dari beasiswa STUNED dan NFP. Termasuk satu dari sembilan profesi yang diutamakan dari sekitar 300 an orang yang dikirim setiap tahunnya. Nah ambil asumsi kasar aja, berapa alokasi kursi kalau 300 dibagi sembilan.

Faktanya? Sumber intelijen gue memaparkan statistik berikut. Rata-rata peminatnya masih tujuh hingga sembilan orang per tahunnya. Itu yang daftar. Gila. Tingkat peluang diterimanya udah lebih dari gede banget kan. Lengkapin semua persyaratan udah pasti berangkat tuh. hehehe

Profesi lainnya macam dosen atau PNS aja udah sampai membludak sehingga ada yang nggak berhasil lolos seleksinya, nah masa elu menyia-nyiakan privillege ini?

Apa sih faktornya? Udah keburu malas begitu ngeliat proses yang harus dilalui. Apa iya? Mari kita kaji satu persatu.

Sebelum ngisi form STUNED, butuh ngisi form universitas. Karena itu butuh hasil tes bahasa inggris. TOEFL atau IELTS. Ah udah lah nggak kuat gue! (mayoritas meneriakkan nada menyerah seperti ini)

Come on. Apa sih kendalanya? Memang bener sih TOEFL score yang bagus tidak diraih dalam sehari semalam.

Gini deh, gue tau wartawan berhadapan dengan very very tight deadline. Nguber narasumber sampai larut malam, terus bikin berita. Tapi masa iya nggak ada waktu? Buktinya masih ada tuh walau segelintir yang bisa.

Let’s see. Elu reporter lapangan? Nah kan ada tuh masa-masa garing dimana elu menunggu sembari ngamprok duduk lama menunggu narasumber kelar rapat departemen. Ketimbang ngerokok mending sembari buka-buka buku latihan TOEFL.

Elu reporter TV yang baru pulang bikin dokumenter di hutan? Sembari ngedit hasil liputan di editing room, sementara nunggu rendering yang lama, bisa tuh buka-buka buku TOEFL.

Salah satu syarat mutlak adalah telah bekerja di institusi media selama minimal 2 tahun. Nggak harus pekerja tetap. Mereka paham kok kalo status kita beberapa kali kontrak diperpanjang sebelum diangkat tetap. Biasa lah industri media. ANYWAY, kalo udah kerja 2 tahun kan bisa tuh ambil cuti. Nah gunakanlah cuti untuk intensive course TOEFL atau IELTS. Kecuali kalau tabungan wartawan bisa buat cuti liburan ke Hawaii.

Elu redaktur (kalo di media cetak) atau producer (kalo di media elektronik TV atau radio)? Nah lebih banyak waktu luang tuh buat ngoprek buku-buku TOEFL, mengupdate kemampuan grammar kamu. Sembari menunggu rapat proyeksi liputan atau saat-saat nafas sejenak sebelum siaran. Banyak lah waktu kalo memang niat.

Teknisi mobil satelit buat siaran langsung breaking news, tape librarian, floor director studio, camera person, hingga penyiar info kemacetan jalan raya. Siapa pun kamu di bidang media, gue yakin masih punya waktu luang yang cukup. Yah walau tidak sebanyak yang dimiliki pekerja normal.

Ok TOEFL sudah tercapai. Meski kamu menghabiskan hingga empat kali tes yang memakan biaya tidak sedikit. Gaji sebulan habis sudah. Bulan besok musti irit banget. Makan pake tahu dan sayur kangkung.

What next? Lengkapi form lainnya sebelum dikirim ke universitas. Rekomen dosen, fotokopi ijasah yang dilegalisir, fotokopi ini itu. Gampang lah itu. Apalagi wartawan koneksi narasumbernya kan banyak buat bantu-bantu. Bikin motivation letter? Duh wartawan kan paling jago bikin tulisan menggugah yang keren penuh argumen dan fakta penguat. Paling-paling capek nyolong-nyolong waktu ngabur dari kantor buat ngurus-ngurus. Kirim deh.

Surat anda telah diterima sudah mendarat di rumah atau imel kamu. Step selanjutnya tinggal mengisi form. Udah makin cerah nih. Paling-paling ngisimotivation statement lagi, dan nulis itu keahlian utama seorang wartawan.Recommendation letter? Wah apalagi itu. Datengin aja salah satu narasumber. Menteri atau tokoh terpandang. Dia pasti inget karena sering diinterview kamu. Hubungannya kan sudah langsung direct. Dan pasti dia akan langsung mau bantu kalo kamu bilang, “Pak saya mau sekolah.” Siapa sih yang nggak mau bantu orang mau sekolah. Apalagi wartawan yang mau sekolah. profesi yang paling berperan mempengaruhi opini publik. Dapat deh rekomendasi keren.

Kirim terus berdoa. Dipanggil interview, terus berdoa lagi sembari nunggu pengumuman. Dapet deh beasiswa sekolah S2 ke Belanda sesuai impian.

Alasan kenapa elu musti melakukan itu semua

Profesi sebagai wartawan atau pekerja media adalah pilihan karir. Iya kan? Kalo bukan pilihan karena cita-cita dan impian, masa iya ada yang mau dengan gaji nggak seberapa. (relatif lho, ini dengan kacamata kapitalisme dan perbandingan dengan beberapa profesi lain)

Nah adalah kebanggaan, kalau orang yang gajinya lebih besar dari kamu setengah mati ngumpulin uang, nggak berangkat-berangkat ke luar negeri, nah ini ada yang mau bayarin hidup setahun lebih di luar negeri dan pulang-pulang punya gelar akademik mentereng. Pencapaian luar biasa kan?

Elu akan jadi semakin setara dengan narasumber dalam profesi jurnalis. Masih sedikit jurnalis yang bergelar S2. apalagi S2 luar negeri. Jadi nanti yang menyorongkan alat perekam atau mike ke narasumber semakin mengerti permasalahan dan punya academic background yang mendukung. Jadilah menambah deretan seperti Bambang Harymurti atau Najwa Shihab sebagai jurnalis yang menyandang gelar Master.

Tambahan alasan lain

Dengan pergi ke Belanda elu berarti memiliki visa Schengen yang membuat elu ketika liburan bisa keliling eropa dengan leluasa. Mengunjungi banyak negara dengan daya tarik khas masing-masing. Dari Paris yang romantis, Barcelona yang autentik hingga Italia yang eksotik. Atau Budapest yang erotik. Sistem transportasi eropa yang rapi dan terjangkau membuat segalanya mungkin.

Selain sabda Nabi untuk terus menuntut ilmu, masa iya seumur hidup nggak pernah foto keliling Eropa? Bandingkan dengan beasiswa Amrik dan Australia, elu cuma dapat satu negara doang selama tinggal disana. Lha, makanya ayo!

Fact: Dutch have the highest proficiency in English among the non-native speakers in the European Union. 87% of Dutch people can speak English well enough to have a conversation with a native speaker. And almost everyone in Amsterdam can speak really good English.

(Wahyu)

Leave a Reply

Your email address will not be published.