Jejak Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Belanda

By October 1, 2014 Blog No Comments
Ind.Ver

Katanya, mengenal dan memahami sejarah mengingatkan kita bagaimana pendidikan turut mengantarkan negara ini untuk merdeka. Gak percaya?

Belanda adalah pusat dan kiblat pendidikan bagi banyak tokoh penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Belanda bahkan menjadi tempat berkumpulnya para mahasiswa Hindia Belanda untuk bersatu dan menyebarkan paham antikolonialisme di negeri Belanda itu sendiri.

Sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia di Belanda tidak terlepas dari perkumpulan yang bernama Indische Veereniging alias Perhimpoenan Indonesia (PI). Dibentuk pada tahun 1908, PI awalnya dibentuk sebagai wadah ngumpulnya para siswa-siswa Hindia Belanda, wadah untuk bersosialisasi dan mengadakan berbagai acara yang menyenangkan selama studi di Belanda, jauh dari kegiatan politik ataupun perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Indische Veereniging

Pada tahun 1913, Tiga Serangkai dibuang ke negeri Belanda, karena berencana mengobrak-abrik perayaan kemerdekaan Belanda. Semua orang, saat itu, dikejutkan dengan artikel Als Ik Eeen Nederlander was (Andai Aku Seorang Belanda) yang ditulis oleh Suwardi Suryaningrat (kemudian berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara) dan didukung oleh Tjipto Mangunkusumo dan Ernest Douwes Dekker.

Pembuangan di Belanda ini ternyata tidak menyurutkan api Tiga Serangkai untuk mengobarkan semangat kemerdekaan. Mereka bergabung dengan PI dan menularkan semangat anti kolonialisme. Para mahasiswa Hindia Belanda yang tujuan utamanya saat itu memperoleh ilmu di Belanda dan nantinya diterapkan di Hindia Belanda, mengelami revolusi pemikiran yang luar biasa. Mereka menyadari bahwa PI bisa menjadi kendaraan yang membuka jalan akan mimpi Indonesia Merdeka. Mereka tersadar bahwa ilmu dan pengaruh yang mereka dapatkan di Belanda bisa menjadi modal awal bagi lahirnya Indonesia yang mandiri di masa depan.

Suwardi Suryaningrat sepulang dari Belanda, segera membentuk Perguruan Nasional Taman Siswa dengan memiliki visi dan misi untuk mencerdaskan anak-anak muda yang kelak akan menjadi penerus kemerdekaan Indonesia.

Tjipto Mangunkusumo yang dalam 1 tahun waktu pengasingannya di Belanda berhasil menaburkan benih-benih mimpi kemerdekaan Indonesia. Ia pulang ke Hindia Belanda dan aktif dalam perkumpulan Insulinde yang nantinya menjadi berubah menjadi Nationaal Indische Partij, satu partai yang dianggap radikal dan berbahaya oleh Pemerintah Belanda.

Douwes Dekker bahkan dalam masa pembuangannya menyempatkan diri untuk studi program kedoktoran di Zurich dan turut andil dalam konspirasi revolusioner India. Setelah dilepaskan dari penjara karena ulahnya itu dia kembali ke Hindia Belanda dan mendirikan insitut pendidikan bernama Ksatriaan Instituut di Bandung.

Tiga Serangkai

Bung Hatta tidak menyia-nyiakan kesempatan bergabung di PI untuk mulai berkarya bagi kemerdekaan Indonesia. Melalui majalah Hindia Poetra yang kemudian berubah nama menjadi Indonesia Merdeka pada tahun 1925, Hatta dan tokoh lainnya secara blak-blakan mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda di Hindia Belanda dan menyerukan sikap dan paham anti kolonialisme.

Para tokoh tersebut berjuang keras memperkenalkan apa itu PI dengan semangat anti kolonialisme pada berbagai negara lain di Eropa. Pada kepemimpinan Bung Hatta juga, nama Indonesia mulai terdengar di berbagai negara lain di Eropa. Mereka mencoba menghapuskan lekatnya nama Hindia Belanda bagi wilayah Nusantara jika kelak merdeka nanti. Bahkan Bung Hatta berani mengutarakan mimpinya dan berorasi akan satu negara bernama Indonesia yang akan segera datang (de toekomstige vrije Indonesische staat).

Akibat keberaniannya berjalan-jalan ke berbagai kota Eropa dan berorasi mengenai Indonesia, Hatta dan beberapa tokoh lain dianggap tergabung dengan kegiatan komunis yang memberontak di Hindia Belanda, Hatta dipanggil pulang ke Rotterdam sempat merasakan penjara Rotterdam selama beberapa tahun.

Setelah tuntas menunaikan masa pendidikannya, para kaum intelektual muda turut aktif menggemakan Indonesia pada seluruh pemuda di wilayah Nusantara yang masih terpecah-pecah dengan organisasi daerah masing-masing.

Tahun 1928, para pemuda berkumpul dalam sebuah Kongres Pemoeda dan tokoh-tokoh yang studi di Belanda berkontribusi secara aktif di dalamnya. Sunario Sastrowardoyo seorang ahli hukum didikan di Leiden Universiteit dan Amir Sjarifudin yang pernah berkelana di Haarlem, tergabung dalam panitia Kongres Pemoeda yang pada akhirnya merumuskan Sumpah Pemuda. Mereka dengan lantang menyebutkan Indonesia sebagai tanah air para pemuda, bersatu dalam keragaman suku budaya dalam satu nama Indonesia, dan menjunjung Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pemuda. Sebuah kegerakan yang ternyata juga banyak diinspirasi oleh keberanian perjuangan PI pimpinan Bung Hatta di Belanda pada saat itu.

llustrasi Kongres Pemoeda

Pada tahun-tahun berikutnya perjuangan mulai terpusat di Indonesia, namun tak terlepas dari para pelajar di universitas Belanda yang mulai kembali ke tanah air. Sebut saja Sutan Sjahrir, seorang mahasiswa Universitas Amsterdam yang pulang dan membangkitkan pergerakan buruh dalam dunia politik saat itu. Disusul dengan Hatta, seorang sarjana ekonomi dari Nederlandsche Handels-Hoogeschool (Universitas Erasmus Rotterdam), yang sudah tidak sejalan dengan PI (yang lebih condong ke arah komunis).

Hatta memilih kembali berjuang bersama Sjahrir dan bergabung dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) baru yang dikecam keras oleh pemerintah Belanda. Hal itu memaksa Hatta dan Sjahrir menjalani Pengasingan demi pengasingan.

Namun, perjuangan para Kaum Intelektual ini toh akhirnya berbuah manis. Bermula dari kumpul-kumpul menikmati studi dan hidup di Belanda, bertransformasi menjadi penggagas berbagai kegerakan kemerdekaan Indonesia baik di nusantara dan luar negeri. Lebih jauh lagi,  berujung pada mimpi yang menjadi kenyataan yaitu Indonesia yang merdeka pada tahun 1945!

Cerita pergerakan kemerdekaan Indonesia yang dirintis kaum intelektual di Belanda tersebut, mengingatkan kita akan komitmen untuk berjuang bagi satu mimpi. Pendidikan terbaik Belanda bisa menjadi awal langkah kegenapan mimpi kita!

Hatta kembali ke Belanda Sebagai Pemenang- Serah Terima Kedaulatan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.