INTERVIEW DENGAN RANESI

By April 1, 2009 Blog No Comments

 

interview with ranesi

 

Gaung novel Negeri van Oranje juga ternyata sampai ke Belanda. Bahkan,Radio Netherlands Indonesia (RANESI) yang berada di Hilversum-Belanda,  tertarik untuk berbincang-bincang mengenai novel perdana kami.

Mengunjungi kantor pusat Radio Netherlands cukup membuat decak kagum juga. Kantor pusatnya terletak di Hilversum, yang memang terkenal sebagai pusat medianya Belanda. Hampir semua stasiun televisi dan radio berkantor di sini. Stasiun Radio ini telah ada sejak tahun 1945  dan tetap aktif hingga saat ini. Tak hanya berbahasa Indonesia, Radio Netherlands juga memiliki beberapa saluran bahasa lain yaitu Belanda, Spanyol, Portugis, Prancis, Sarnami, Papiamento dan Arab. Di Indonesia, RANESI juga memiliki afiliasi dengan beberapa radio-radio lokal di seluruh Indonesia.

Dalam suasana yang bersahabat, mas Eka Tanjung dari Ranesi mengobrol dengan salah satu dari kami, Rizki Pandu Permana, yang kebetulan memang sedang berada di Belanda.

Eka Tanjung (ET): Bisa diceritakan mengenai isi novelnya?
Rizki P Permana (RP): Novel ini bercerita tentang lima orang dengan latar berbeda, bersekolah di Belanda. Di novel ini juga kita bercerita tentang bagimana perjuangan mereka untuk bisa survived di negeri Belanda, tidak hanya untuk dapet gelar namun juga untuk mengejar mimpi mereka masing-masing. Mereka ini kami ceritakan sedang mengambil program Master (s2).

Dimulai dari pertemuan tidak sengaja di Stasiun Amersfoort, karena badai, dari situ persahabatan mereka dimulai. Termasuk juga bagaimana mereka bersosialisasi, mencari makanan, mencari rumah, persahabatan, cinta dan masalah-masalah sosial lainnya.

ET: Dari lima orang yang kalian ceritakan dalam novel, sejauh mana mereka berkaitan dengan para penulisnya?
RP: Sebetulnya lima tokoh dalam novel itu adalah fiksi. Kita berempat membuat karakter lima orang, yang terdiri dari satu orang perempuan dan empat orang laki-laki. Tapi kita tidak bisa menampik bahwa pengalaman kita di Belanda, dan juga di Indonesia, berpengaruh terhadap karakter-karakter tersebut. Dan bahkan, ada beberapa karakter teman-teman kita yang kita masukan juga ke mereka.

ET: Dari kelima itu, asal usulnya berbeda?
RP: Ya, berbeda. Lintang dari Jawa, Geri dan Wicak dari Jawa Barat, Daus dari Betawi dan Banjar dari Kalimantan.

ET: Soal agamanya, disebutkan juga tidak
RP: Hmm.. tidak terlalu ditonjolkan. Tapi memang ada satu tokoh yang kita buat sedikit religius namun ingin coba-coba hal baru.

ET: Di Belanda kan katanya bebas. Mau beli ganja bisa, minum alkohol juga oke, silahkan, apalagi di atas usia dewasa. Ada tidak dari tokoh2 itu yang diceritakan mencoba hal-hal tersebut?
RP: Yang pasti, novel ini tidak hanya menceritakan bagaimana cara mereka belajar, namun juga bagaimana kondisi sosial yang ada di Belanda. Salah satunya adalah yang Mas Eka katakan tadi. Jadi memang, dari A sampe Z, walaupun tidak selengkap apa yang teman-teman di Belanda semua alami, namun kami harap cukup representatif untuk menggambarkan mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Belanda.

ET: Kira-kira siapa yang akan paling menyukai novel ini?
RP: Segmentasi awalnya adalah untuk teman-teman yang baru mulai kuliah hingga dewasa, namun tidak menutup kemungkinan juga untuk adik-adik di SMA yang mungkin ingin tahu kalau bersekolah di Belanda seperti apa. Di setiap bab juga kita memberi tips dan dan informasi praktis, seperti bagaimana cara bergaul dengan orang-orang di Belanda, event-event penting di belanda, cara mencari rumah dan juga birokrasi di belanda.

ET: Apa tujuan kalian menulis buku ini?
RP: 1.    Kita harus berani bermimpi. Jangan takut untuk bermimpi dan kita harus berusaha untuk bisa meraihnya.
2.    Siapa bilang sekolah di luar negeri itu gampang? Bagaimana kita bisa bertahan jika bersekolah di luar negeri itu yang kami gambarkan di sini.
3.    Bagaimana kita tetap bisa mempertahankan jati diri kita sebagai orang Indonesia, di manapun kita berada.

ET: Kalo soal mimpi, sejak anak-anak tentu kita sudah bermimpi. Kira-kira bagaimana kita bisa mewujudkannya, selain keinginan dan mimpi itu?
RP: Yang pasti usaha. Di sini juga kami bercerita bahwa lima orang ini memiliki latar belakang dan cara yang berbeda-beda untuk bisa bersekolah di belanda.

ET: Jika seorang anak tukang jualan nasi di pasar, dan sekarang sedang bersekolah SMP di kampung, apakah dia bisa keluar negeri menurut Rizki?
RP: Bisa. Siapapun pasti bisa. Yang pasti harus belajar. There is no free lunch,yang penting mau usaha dan berani keluar keringat. Jangan juga jadikan ekonomi keluarga sebagai faktor penghalang untuk bisa mencapai mimpi. Saya pun bukan berasal dari keluarga yang berada, tapi mimpi membawa saya ke Belanda. Yang penting ada kemauan, niat dan usaha. Keberuntungan juga termasuk, namun porsinya sangat kecil.

ET: Kalau boleh tahu, bagaimana bentuk bukunya nih, jika kita masuk ke toko buku?
RP: Warna dasar covernya merah, ada siluet lima orang, dan tulisan Negeri van Oranje yang berwarna kuning – orange.

Untuk mendengarkan secara langsung, teman-teman bisa buka link diwebsite ranesi.

*sumpah.. suara gue ngebass gak jelas gitu yah? huahahahahaha. -aaqq-*

Leave a Reply

Your email address will not be published.