De Klank van Krontjong en van Gamelan @Den Haag

By September 9, 2014 Blog No Comments

Lazimnya, ibu kota merupakan pusat pemerintahan suatu negara. Namun hal itu tidak berlaku untuk kerajaan Belanda. Meskipun secara konstitusional Ibu kota Belanda adalah Amsterdam akan tetapi pusat pemerintahannya sejak abad ke-16 masih betah di Den Haag.

Bisa jadi karena status di atas, Wieteke van Dort, biduan yang kondang dengan nama panggung Tante Lien mengabadikan kenangan masa kolonial dalam lagu bernada satire dengan judul Arm Den Haag. Berikut adalah petikan lagu & terjemahannya (ini lagu enak lho didengerin, apalagi sambil makan Rijstaffel & memandang tram dan pesepeda yang berlalu-lalang di Den Haag. Pasti langsung kerasa banget suasana Belandanya. Ya iyalah-emang lagi di Belanda!):

Arm Den Haag, dat is toch erg, dat jij maar niet vergeten kan (Kasihan Den Haag, kau tidak mungkin melupakannya)

De klank van krontjong en van gamelan (Alunan merdu kroncong dan gamelan)

In het Indisch restaurant gonst het gesprek van alle kant: Tempo doeloe, tempo doeloe in dat verre, verre land ( Di restoran Indonesia orang-orang berbincang disetiap sudut: Tempo dulu, tempo dulu, di tempat yang sangat jauh itu)

Ach kassian, het is voorbij kassian, het is voorbij (Ah kasihan, semua kini telah berlalu, kasihan telah berlalu)

Den Haag, Den Haag, de weduwe van Indie ben jij (Den Haag, Den Haag, kau sekarang janda dari Hindia Belanda)

Salah satu album musik karya Tante Lien

Buku sejarah mulai menyebut cikal bakal Den Haag sejak abad ke-13. Saat itu Den Haag masih berupa sebuah desa kecil dekat kastil bangsawan. Berabad-abad kemudian meski sudah meninggalkan bentuk desa namun ibu kota pemerintahan Belanda ini masih saja “mungil”. Penghuni resminya tercatat hanya sekitar 500.000-an jiwa. Masih kalah dengan Yogyakarta. Meski demikian posisi Den Haag sangatlah penting dalam percaturan politik dunia. Maklum, PBB saja sampai punya base di sini. Den Haag-lah penyandang nama kota PBB ke-2 setelah New York.

Bendera Negara-negara anggota PBB di Den Haag

Ok. Kami nggak mau cerita panjang lebar soal sejarah Den Haag. Yang akan kami bahas adalah sekelumit kehidupan berstudi disini. Bagaimana iklim study, kampus apa saja yang berbasis di sana, hingga kegiatan & hal menarik yang tak boleh dilewatkan sepanjang masa-masa indah menimba ilmu di Den Haag.

Yang pertama, kota ini punya keunikan khusus bagi bangsa kita. Salah satu yang paling penting mungkin adalah fakta bahwa populasi saudara sebangsa setanah air paling tinggi ya di sini. Cuma di Den Haag (dan mungkin Amsterdam) kita akan terkaget-kaget mendengar banyaknya penutur bahasa Indonesia yang hilir-mudik. Penuturnya pun beragam. Pelajar, professional, turis, pegawai kedutaan, perantau, hingga bekas pelarian konflik politik abad silam.

Perantau yang telah beranak pinak tak sedikit yang sudah sukses membangun beragam usaha. Toko dan restoran adalah bentuk usaha yang paling umum dimiliki kaum perantauan. Populasi restoran Indonesia di Den Haag tak pernah kurang buat kita yang kangen cita rasa negeri sendiri. Meski harganya cukup menantang bagi dompet pelajar namun bolehlah sebagai obat kangen.

Kedekatan Den Haag dan Indonesia semakin kental terasa bila sempat mengunjungi Tong Tong Festival di bilangan Malieveld. Festival yang juga dikenal dengan nama Pasar Malam Besar ini rutin digelar sejak musim panas 1959. Selama tak kurang dari 2 pekan indra kita serasa terbang pulang kampung oleh beragam menu kuliner khas Nusantara sampai alunan musik yang dibawakan artis tenar Indonesia.

Tahun ini (2014) Anggun, Balawan, Maya KDI sampai violist Luluk Purwanto adalah deretan artis Indonesia yang menyempatkan diri menghibur pengunjung Tong Tong Festival. Soal festival yang satu ini, buku NvO bahkan membahas tentang “keuntungan” lain yang berkaitan erat dengan kesehatan dompet pelajar ;)

Festival Tong Tong 2014, Malieveld Den Haag

Di luar urusan perut, makanan batiniah pun dimanjakan di Den Haag. Bagi kawan-kawan muslim pasti ngga afdol kalau belum menyambangi Masjid Al-Hikmah di kawasan Moerwijk yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Centrum Rijswijk. Yang unik dari mesjid ini adalah pendiriannya konon didukung penuh oleh masyarakat sekitar yang tidak rela bangunan ini digunakan untuk kepentingan lain seperti pub/diskotik. Kini, mesjid wakaf pengusaha H. Probosutedjo ini menjadi tempat berkumpul masyarakat Indonesia secara rutin di hari Jum’at. Asyiknya lagi, selepas Jumatan kita disuguhi beragam panganan dan minuman. Alhamdulillah ya. Lumayan banget kan buat mahasiswa?

Suasana Shalat Ied di Mesjid Al Hikmah Den Haag

Membahas dunia pendidikan di kota Den Haag – ada yang menyebut kota ini belum sah benar menyandang nama “kota pelajar” di Belanda. Mereka yang berpendapat di atas mengambil dasar pada ketiadaan “Research University” asli yang lahir di Den Haag. Namun faktanya, Den Haag sangat layak  bersanding dengan kota-kota pelajar lainnya di Belanda. Tak kurang dari 27.000 pelajar universitas saat ini menimba ilmu di sana dengan persentasi mahasiswa asing sekitar 20%.

Lalu bagaimana dengan universitasnya? Membahas universitas-universitas di Den Haag mungkin terlalu panjang bila diurai satu persatu. Walau demikian ada baiknya kita mulai saja (lho?!).

Den Haag yang terkenal dengan reputasi sebagai kota persatuan bangsa-bangsa tentu menjadi salah satu alasan sahih bagi Erasmus University Rotterdam untuk “memarkir” ISS, salah satu kampusnya di Den Haag. ISS (International Institute of Social Studies)-dari namanya  mudah ditebak kondang sebagai salah satu centre of excellence di bidang riset ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Para top-notch aka dedengkot aktivis kemanusiaan dan kemasyarakatan di negara berkembang dan negara-negara berstatus transisi banyak yang menimba ilmu disini. ISS merupakan institusi pendidikan pasca sarjana yang hanya menyediakan program studi S2&S3.

ISS Campus Den Haag

Bagi kawan-kawan yang tertarik dengan bidang khusus seperti perhotelan atau bidang seni bisa jadi sudah pernah mendengar nama Hotelschool The Hague dan The Royal Conservatoire and the Royal Academy of Art. Kedua nama di atas kondang sebagai padepokan yang telah menciptakan standar yang menjadi acuan di bidangnya. Asal tahu saja, Hotelschool The Hague sudah mulai mendidik tenaga ahli perhotelan sejak tahun 1929. Hingga kini reputasinya tetap terjaga dan masuk dalam lima besar sekolah perhotelan terbaik di dunia. Adapun The Royal Conservatoire merupakan konservatorium tertua di Belanda. Institusi ini sejak tahun 2010 telah memperoleh nama baru yaitu University of the Arts The Hague dan merupakan salah satu nama besar dalam pendidikan seni di Eropa. Banyak alumni institusi ini yang mengisi tempat di berbagai orchestra di berbagai belahan dunia. Sebut saja pemain oboe Susanne Regel, komposer Vanessa Lann, pianis & konduktor asal Australia Geoffrey Lancaster, hingga violist Yunani Yannos Margaziotis.

Institusi pendidikan berikutnya adalah The Hague University of Applied Science. Universitas yang dikenal dengan de Haagse Hogeschool adalah yang terbesar di seantero Belanda. Institusi ini relatif masih muda karena baru berdiri pada tahun 1987 sebagai hasil merger dari 14 institusi pendidikan tinggi bertarikh abad ke 19. Inilah institusi pendidikan tinggi terbesar di kota Den Haag dengan mahasiswa internasional yang mencapai tak kurang dari 145 negara. Berfokus pada pendidikan bachelor dan master, THU memiliki jurusan yang terentang mulai dari teknologi, administrasi public, media, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.

Kampus The Hague University of Applied Science

Letak Den Haag yang strategis karena berada di persimpangan dua kota pelajar bersejarah di Belanda membawa banyak keuntungan bagi penghuninya. Ingat pepatah “Amsterdam to party, Den Haag to live, Rotterdam to work”? Memang betul sekali, orang Belanda sangat senang tinggal di Den Haag. Leiden dan Delft yang mengapit Den Haag adalah 2 kota pelajar klasik yang cantik dan jaraknya pun hanya sekitar 15 menitan bila ditempuh dengan stoptrein dari Den Haag (kereta yang berhenti disetiap stasiun kereta). Tak heran bila banyak pelajar di Leiden maupun Delft yang akhirnya memilih Den Haag sebagai kota mereka bermukim. Diluar jaraknya yang dekat, bila ditanya mengapa memilih Den Haag ? Pasti akan beragam alasannya. Yang jelas, bila sudah sampai di Den Haag anda akan temukan jawaban versi anda sendiri!

Leave a Reply

Your email address will not be published.