DAN IBUKOTANYA ADALAAH…

By March 24, 2009 Blog No Comments

Setiap datang kesempatan untuk mengunjungi ibu kota suatu negara, perasaan saya selalu diliputi rasa gembira tak kepalang. Buat saya, mengunjungi ibu kota selalu menjadi pengalaman yang teramat berharga. Namanya saja “ibu” kota, pikiran yang ada di benak mengatakan pastinya kota tersebut mewakili kultur, gaya hidup, hingga adat istiadah sehari-hari dari masyarakat negara itu. Jadi, bisa dibilang dengan mengunjungi ibu kota, kita sudah merasakan pengalaman “hidup” di negara tersebut. (Perhatian : Ini tidak berlaku kalau anda cuma turun dari pesawat, transit bentar di lobi airport, lalu naik lagi ke pesawat untuk pergi ke negara lain).

Buat kita bangsa Indonesia, nama Den Haag pastilah tidak seasing nama Libreville (ibu kota Gabon), Praia (ibukota Cape Verde) atau Suva (ibukota Fiji). Ya Den Haag yang kita kenal adalah ibukota dari negeri liliput yang pernah ratusan tahun menjajah negeri kita nan maha luas. Dari kota inilah dulu komando yang menggerakkan seluruh armada-armada kapal Kerajaan Belanda berasal hingga menyebar jauh menyebrangi samudera.

Kalau di banyak negara, sang ibukota juga merangkap jabatan sebagai kota terbesar, pusat dari segalanya, dsb dsb, maka Den Haag, atau The Hague, atau S’Gravenhage (gila ya, namanya aja ada tiga, by the way, secara harfiah, Den Haag itu artinya “Pagar” yah kalo di Yogya mungkin jadi “Mbenteng”? hahaha kagak banget ya!) sesungguhnya hanya kota ketiga terbesar di Belanda. Juara satunya Amsterdam, dan runner up nya Rotterdam. Maka dari itu, saya yang kurang suka baca, dan selalu malas mempersiapkan diri sebelum berangkat ke suatu negara baru rada terkejut juga saat kali pertama menginjakkan kaki di kota ini. Gambaran kota metropolis di benak seperti yang pernah saya jumpai saat mengunjungi Paris, Roma, Tokyo, hingga Kuala Lumpur seketika kandas begitu kaki menginjak pelataran stasiun Den Haag Centraal.

Sejauh mata memandang, tidak ada gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menggapai awan. Namun sebenarnya kota ini punya satu gedung tertinggi yang bisa dibanggakan. Namanya Hoftoren, sesosok gedung berpucuk mirip wisma BNI. Dari tempat saya berdiri si Hoftoren ini bagai pulpen parker yang menyembul di balik rerindangan pohon. Kendaraan pun tidak ramai berlalu lalang. Sungguh tenang, tentram, tak ada hiruk pikuk yang memecah gendang telinga.

Yep, Den Haag memang bukan ibu kota yang metropolitan. Kota tua ini juga sebenarnya bukan ibu kota resmi Kerajaan Belanda. Nah loh! Tunggu dulu! Berarti dulu setiap ada ramalan cuaca di “dunia dalam berita” saya diboongin dong!? “Paris, berawan. Roma, hujan. Den Haag, banjir”. Itu kan nama-nama ibukota semua? Kalau Den Haag bukan the capital of Koninkrijk der Nederlanden Lalu siapa ibu kota sebenarnya?

Mari kita buka sejenak buku sejarah. Buku sejarah Belanda, bukan buku sejarah Indonesia apalagi PSPB. Di sana kita bisa temui fakta yang menyebutkan Pasal 30 Konstitusi 1814 menjelaskan bahwasanya Penguasa yang bertakhta harus bersumpah di Asmterdam selaku ibu kota! Namun rupanya setahun kemudian, pasal tersebut lenyap tak berbekas setelah pasal baru terbit akibat bergabungnya daerah selatan (yang kini dikenal sebagai Belgia) yang menjadikan status ibu kota kerajaan Belanda menjadi tak jelas hingga tahun 1983! (yap anda tidak salah hitung… total 168 tahun!!!).

Lalu, kalau “the capital” of Belanda adalah Amsterdam, lalu kenapa kantor-kantor pemerintahan atau perwakilan-perwakilan negara asing tidak berpusat di situ? Kok malah di Den Haag?? Well disitulah uniknya. Di negara makmur ini, Den Haag lah yang ditunjuk secara resmi dan sah sebagai pusat pemerintahan. Fakta ini menjadikan Belanda sebagai satu di antara segelintir negara di dunia yang ibukotanya tidak merangkap sebagai ibu kota pemerintahan.

Ok jadi anda sudah tahu, bila berkesempatan mengunjungi Negeri Kincir Angin tentu tidaklah afdol bila melupakan Den Haag dalam daftar kunjungan anda. Namun jangan kaget bila sudah sampai di sini, anda merasa kok kayak di manaaaa gitu….bukan apa-apa mbak, mas, tante, oom, soalnya populasi orang sebangsa dan setanah air gede banget di sini! Ah masa sih? Ok, kalau ngga percaya cobalah jalan-jalan ke pecinan Den Haag yang jaraknya hanya selemparan batu dari Centraal Station, buka kuping baik2. Pejamkan mata. Nah! Bahasa apa yang anda dengar? Eh ada….ada…..ada yang ngomong bahasa Indonesia! Hahahahaha…. Itulah Den Haag, kota yang punya kaitan erat dengan kita. Kota yang penuh dengan bangunan bersejarah nan cantik dan banyak di antaranya secuil dari sejarah-sejarah itu berkaitan erat dengan bangsa kita.

by Adept Lenggana

Leave a Reply

Your email address will not be published.