Bermula dari sebuah warung kopi di sudut Jakarta tahun 2008, dilanjutkan dengan coretan-coretan pada sebuah tisu bekas, maka lahirlah garis besar cerita Negeri van Oranje (NVO).

NVO adalah hasil kegelisahan kami berempat akan perlunya sebuah panduan kehidupan mahasiswa saat bersekolah di negeri asing, dalam hal ini adalah Belanda, dengan bahasa yang lugas dan tidak preachy. Kami sampai pada keinginan bahwa karya ini haruslah inspiratif dan disampaikan dengan humor. Karena bukankah lebih enak jika benak pembaca mendapatkan sesuatu yang tersirat ketimbang yang tersurat jelas?

Koordinasi awal lebih banyak menggunakan e-mail pada sebuah milis bertitel “aagaban”. Minus Rizki yang kembali ke Belanda untuk program doktoralnya; Wahyu, Adept, dan Nisa masih sering bertemu membahas bab-bab yang sudah jadi. Pertemuan digelar tiga minggu sekali, kadang di akhir pekan, kadang sepulang kantor. Membagi waktu antara kepadatan kerja di kantor masing-masing dan waktu untuk keluarga.

Total waktu merampungkan novel ini kurang lebih satu tahun. Ketika kami memulai menulis, Nisa baru memiliki satu orang anak. Setelah novel ini selesai, ia sudah memiliki dua orang anak.  Saat menjenguk kelahiran putra keduanya, kami bahkan masih sempat mendiskusikan novel ini.

***

“Boleh minta waktu untuk mengecek kembali jika ada salah ketik, untuk terakhir kalinya?” Wahyu bertanya kepada pria di hadapannya. Pria itu hanya tersenyum seraya mengangguk.

Ia adalah Salman Faridi, pemimpin Bentang Pustaka. Saat itu pertengahan Februari 2009 dan kami berada di Bandung, untuk membahas finalisasi naskah yang akan naik cetak dalam hitungan hari.

‘Bayi’ kami pun lahir beberapa hari kemudian.

Kami berempat menjerit kegirangan.

***

Awal 2014, secara tiba-tiba kami dihubungi oleh seorang produser film. Ia tertarik untuk membuat NVO ke dalam bentuk film layar lebar. Setelah berdikusi panjang lebar, kesepakatan kontrak pengalihan novel menjadi film layar lebar pun disetujui.

Di sebuah kantor di bilangan Duren Tiga, kontrak itu ditandatangani.

Kami pun (masih) dengan kampungannya menjerit kegirangan.

***

Selama lima tahun, berbagai ‘cerita’ dan sambutan kami dapatkan dari pembaca. Mulai dari yang mengatakan bahwa novel ini bagus, membuat mereka berani bermimpi, merasa termotivasi, hingga yang benar-benar mewujudkan cita-citanya untuk bersekolah ke Belanda (dan juga negara-negara lain). Kami tersanjung, novel ini ternyata melebihi tujuan awalnya dan bahkan mampu membuat banyak orang mengejar mimpinya. Ini membuat kami percaya bahwa Indonesia dapat memiliki lebih banyak lagi generasi muda yang berprestasi dan mampu bersaing di tingkat internasional.

Dengan ‘sedikit’ pengalaman yang kami punya, dukungan teknis dan manajemen dari sahabat creatips dan juga bantuan dari berbagai pihak, kami bermaksud membawa NVO satu tingkat lebih tinggi. Tidak hanya melulu mengenai novel (ataupun film), kami ingin membuatnya NVO menjadi sebuah ‘gerakan’. Kami menyebutnya sebagai Gerakan NVO.

Salah satu hal yang (akan dan telah) dilakukan adalah dengan memotivasi dan membuka kesempatan bagi generasi muda Indonesia mengejar mimpi bersekolah setinggi-tingginya, termasuk di negara-negara di Eropa, Amerika dan lain-lain.

Gerakan ini juga akan menjadi sebuah platform dengan mengumpulkan berbagai inisiatif yang sudah (dan akan) ada di Indonesia. Bersama para pihak, kami akan bekerjasama membuat berbagai program dan kegiatan yang mendukung gerakan ini.

Semoga niat tulus dan usaha kecil ini dapat berkontribusi menciptakan generasi-generasi baru Indonesia yang jauh lebih hebat. Amin.

Yang pasti, kami akan terus berkarya, baik novel ataupun bentuk kreatif lainnya.

Rizki, Anis, Wahyu dan Adept
@negerivanoranje