Gue yakin gue bukan orang pertama sekelurahan gue yang sekolah sampai Belanda. Namun bisa jadi gue adalah orang pertama sekelurahan Pondok Kopi Kecamatan Duren Sawit yang bisa masuk istana, salaman, sekaligus ngobrol dengan Ratu Belanda.

Gue dan beberapa teman sekelas terpilih untuk menghadiri undangan “The Fifth Anniversary of the Prince Claus Chair in Development and Equity” di Paleis Noordeinde, The Haque. Kenapa gue yang terpilih? Inilah hikmah dari sering bantu-bantu acara International Alumni jadi tukang sound system di sebuah conference, juga berkah karena punya thesis supervisor yang satu TK dengan Ratu Belanda.

Tinggal di negeri orang meski susah haruslah luwes dalam segala hal. Beragam cara dilakukan untuk tetap bisa survive. Mulai dari ngotot mengganti sendiri ban belakang sepeda yang bocor, yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Menyebabkan pada ujungnya ongkos servis lebih mahal karena salah bongkar, saat menyerah dan membawanya ke montir bule.

Bekerja sebagai pelayan di restoran Indonesia sempat membuat gue kaya mendadak karena kebanjiran tip, karena pelayanan yang prima. Semua tamu bule didongengi asal muasal soto lamongan, kenapa rawon kuahnya hitam, dan apa yang dimaksud dengan rujak cingur. Sungguh mereka terkesima. Meski sumpah, susah sekali mencari padanan kata.

Dan yang paling mengherankan saat menjadi pelajar miskin di negeri orang adalah, gue bisa kuat antri bolak balik tujuh kali untuk dapat makan kentang goreng khas belanda porsi jumbo yang saat itu sedang perayaan bagi-bagi gratis. Setelah itu bisa hemat tidak makan dua hari karena kekenyangan.

Raden Wahyuningrat adalah lulusan Utrecht University (2006-2008)