Setelah beberapa minggu berdiam di Den Haag, akhirnya saya cukup beruntung berhasil mendapatkan empat sepeda rongsokan yang dipungut di tong sampah apartemen elite di Scheveningen. Setelah dibersihkan dan dipilah, voila! Lahirlah sebuah sepeda gado-gado cantik berwarna abu-abu. Lumayan punya sepeda gratisan. Merek di rangkanya Fongers, sama dengan merek sepeda almarhum embah kakung saya yang mantan carik di Jawa Tengah. Dengan aksesori lampu dan tas bagasi besar gratisan berwarna hijau norak bertulis “Konmar”, jadilah si Fongers teman setia menemani perjalanan studi saya. Cukup lama sang sepeda tak kenal lelah mengantar saya ke mana-mana, termasuk mencari tambahan euro seperti yang lazim dilakukan para mahasiswa di Eropa.

Hingga pada suatu malam, seusai mengunjungi seorang teman yang tinggal dekat Centraal Station Den Haag, di tempat parkir seperti biasa saya memicingkan mata mencari secarik warna hijau norak dari tas bagasi si Fongers. Namun, kali ini yang dicari tidak kelihatan. “Loh kok ndak ada?” Namun, hati saya tetap tenang. “Nggak mungkin sepeda saya hilang,” saya masih optimis. Dua puluh menit berlalu akhirnya saya pasrah, “Ilang deh si Fongers”.

Meski sepeda hilang, sebenarnya hati ini tertawa geli. Seandainya tempat parkir itu terang benderang cuma maling mabok atau kurang waras saja yang mau nyolong sepeda saya. Gimana tidak, setelah hampir setahun disiksa kini sang sepeda sedang sekarat. Girnya ambrol, pedalnya menggantung siap lepas sewaktu-waktu. Begitu pula dengan rantainya, sambungan di mana-mana, siap putus sewaktu-waktu. Akhirnya, sambil senyum-senyum saya mengejar tram terakhir sembari berdoa semoga si maling nggak keseruduk tram gara-gara si Fongers yang sekarat ngambek saat dikayuh.

Adept Widiarsa adalah lulusan The Hague University of Applied Science (2006-2008)